Bagaimana bisa terjadi keropos tulang?

by 0

Tulang adalah suatu jaringan hidup karena itu  selalu terjadi regenerasi sel-sel tulang secara terusmenerus agar tulang tetap kuat. Jadi, tulang selalu mengalami pembongkaran dan penggantian sel-sel lama dengan sel-sel baru. Jika proses bongkar pasang sel-sel lama dengan sel-sel baru tersebut seimbang, maka tulang akan tetap kuat. Namun saat laju penghancuran tulang lebih besar ketimbang laju pembentukan tulang, maka terjadilah keropos tulang.
Menyangkut proses bongkar pasang tersebut, dikenal dua tipe sel tulang, yaitu osteoklas (sel penghancur struktur tulang) dan osteoblas (sel pembangun/pembentuk tulang). Dalam keadaan normal, osteoklas dan osteoblas bekerja bergantian, saling mengisi dan seimbang, sehingga tulang tetap utuh dan kuat.

Tulang yang normal adalah tulang yang kuat karena mengandung protein, kolagen, dan mineral kalsium.
kandungan protein dan mineral itu membuat tulang menjadi keras dan kuat. Selain itu diperlukan beberapa hormon, seperti paratiroid, kalsitonin, estrogen, dan testosteron untuk mempertahankan kepadatan tulang. Jika tulang kekurangan asupan nutrisi (protein dan mineral) tersebut, maka kepadatan tulang berkurang dan tulang menjadi rapuh.
Makin tua seseorang, proses bongkar pasang menjadi makin tidak seimbang. Osteoklas menjadi lebih dominan sehingga kerusakan sel-sel tidak sanggup diimbangi dengan penggantian sel-sel baru. Selain itu makin tua orang, penyerapan nutrisi juga makin tidak optimal sehingga asupan protein dan mineral tidak mampu mempertahankan kepadatan tulang. Akibatnya, tulang kurangan asupan nutrisi untuk pembentukannya ditambah dengan makin melemahnya osteoblas, maka Iul.mg makin lama makin rapuh bersamaan dengan bertambahnya usia. Muncullah penyakit keropos tulang atau osteoporosis.
Kehilangan kalsium pada lansia bisa dilihat dari sisi lain. Sebagaimana diketahui, wanita mengalami menopause pada usia sekitar 45-50an. Pada waktu itu hormon estrogen makin lama makin sedikit diproduksi tubuh. padahal, penyerapan kalsium di usus dan reabsorpsi di ginjal bergantung pada hormon estrogen. Karena itu, berkurangnya produksi estrogen akan menyebabkan wanita pascamenopause mengalami kehilangan kalsium itu melalui saluran kemih. Ditambah dengan berkurangnya penyerapan kalsium melalui usus, maka tulang akan kekurangan kalsium yang menyebabkan tulang keropos  dan menimbulkan osteoporosis. Dibutuhkan asupan kalsium yang tinggi untuk mempertahankan kadar kalsium normal pada wanita pascamenopause.

Proses osteoporosis dibagi menjadi empat stadium. Pembagian stadium ini memudahkan dan menentukan tindakan yang harus dilakukan oleh dokter. Stadium 1 dan stadium 2 umumnya belum timbul keluhan, tetapi jika diketahui lebih dini sebaiknya diambil langkah-langkah pengobatan untuk mencegah kerusakan tulang lebih lanjut. Pada stadium 1 tulang masih tumbuh dengan cepat. Artinya, kerja osteoblas masih seimbang dengan kerja osteoklas. Ini terjadi pada usia 30-35 tahun. Pada stadium 2 kepadatan tulang mulai menurun (disebut osteopenia), kerja osteoklas yang menghancurkan tulang mulai lebih cepat daripada osteoblas yang membentuk tulang. Ini terjadi pada usia 35-45 tahun. Pada stadium tulang sudah mulai rapuh jika tidak ada perawatan/ pengobatan, fraktur bisa terjadi meskipun hanya disebabkan sentuhan/benturan ringan. Ini dialami pada usia 45-55 tahun. Stadium 4 biasanya terjadi pada usia di atas 55 tahun. Kerja osteoblas sudah sangat menurun, sementara osteoklas tetap aktif. Akibatnya sangat mung- kin terjadi fraktur tiba-tiba dengan rasa nyeri yang hebat. Kemungkinan menyebabkan penderita tidak bisa aktif, bahkan harus selalu berbaring.
Meskipun keropos tulang akibat menopause pada wanita dan bertambahnya usia tidak dapat dielakkan, namun tingkat pengeroposannya dapat diperlambat dengan langkah-langkah pencegahan.

Leave a Reply